Minggu, 06 Desember 2015

Lebih dekat mengenal Bunda Theresa

Agnes Gonxha Bojaxhiu, Begitulah namanya. Wanita yang akrab disapa Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Dalam bahasa Albania, Gonxha memiliki arti Kuncup Mawar. Beliau dilahirkan pada tanggal 26 Agustus 1910, dan dipermandikan pada 27 Agustus. Meskipun pada faktanya ia lahir pada tanggal 26 Agustus, namun Ia selalu menganggap tanggal 27 Agustus sebagai hari kelahirannya. Pada awal kehidupannya saat berusia 8 Tahun, ayahnya meninggal dikarenakan terlibat dalam politik Albania pada Tahun 1919. Agnes pada awalnya sangat menyukai cerita-cerita tentang kehidupan misionaris dan pada Usia 12 tahun ia memiliki keyakinan dan merasa terpanggil untuk melayani kaum papa miskin.
Lalu pada usia 18 Tahun, ia meninggalkan rumah untuk bergabung dalam susteran Loreto sebagai misionaris dan terlebih dahulu belajar bahasa inggris. Hingga pada tahun 1929, ia memulai pelatihan sebagai misionaris di dekat Pegunungan Himalaya. Ia mengambil sumpah sucinya pada Tanggal 14 Mei 1937 sebagai guru di sekolah biara selama 25 tahun, hingga pada akhirnya diangkat menjadi kepala sekolah. Meskipun menikmati dunianya sebagai pengajar, ia merasa terusik karena kemiskinan yang ada disekitarnya yang menimbulkan penderitaan dan kematian bahkan terdapat kekerasan antara kaum Hindu/Muslim pada tahun 1946 membuat situasi keputusasaan dan ketakutan.
Pada tanggal 10 September 1946, Teresa mengalami "panggilan" saat bepergian dengan kereta api ke biara Loreto di Darjeeling dari Kalkuta untuk retreat tahunannya. Pada saat itu juga, Ia mendengar kata "saya haus". "Saya meninggalkan biara dan membantu orang miskin sewaktu tinggal bersama mereka. Ini adalah sebuah perintah. Kegagalan akan mematahkan iman."
Dia memulai pekerjaan misionarisnya bersama orang miskin pada 8 Desember 1948, meninggalkan jubah Kepala sekolahnya. Bunda Teresa mengadopsi kewarganegaraan India, menghabiskan beberapa bulan di Patna untuk menerima pelatihan dasar medis di Rumah Sakit Keluarga Kudus dan kemudian memberanikan diri ke daerah kumuh. Ia mengawali sebuah sekolah di Motijhil (Kalkuta); kemudian ia segera membantu orang miskin dan kelaparan. Pada awal tahun 1949, ia bergabung dalam usahanya dengan sekelompok perempuan muda dan meletakkan dasar untuk menciptakan sebuah komunitas religius baru untuk membantu orang-orang "termiskin di antara kaum miskin".
berkat usahanya, berhasil menarik simpati dari Pejabat India dan perdana menteri mengapresiasi apa yang telah dilakukan olehnya.
Teresa menulis dalam buku hariannya bahwa tahun pertamanya penuh dengan kesulitan. Ia tidak memiliki penghasilan dan harus memohon makanan dan persediaan. Teresa mengalami keraguan, kesepian dan godaan untuk kembali dalam kenyamanan kehidupan biara. Ia menulis dalam buku hariannya:
“Tuhan ingin saya masuk dalam kemelaratan. Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan para orang miskin pastilah sangat keras. Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan bagaimana mereka sakit jiwa dan raga, mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan. Kemudian kenikmatan Loreto datang pada saya. ‘Kamu hanya perlu mengatakan dan semuanya akan menjadi milikmu lagi,’ kata sang penggoda... Sebuah pilihan bebas, Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.”.
Teresa mendapatkan izin Vatikan pada 7 Oktober 1950 untuk memulai kongregasi keuskupan, yang kemudian menjadi Misionaris Cinta Kasih dan Misinya adalah untuk merawat "yang lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, semua orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan seluruh masyarakat, orang yang telah menjadi beban bagi masyarakat dan dihindari oleh semua orang." 
Pada tahun 1952, Bunda Teresa membuka Home for the Dying pertama diatas lahan yang disediakan oleh kota Kalkuta. Dengan bantuan pejabat India, ia mengubah sebuah kuil Hindu yang ditinggalkan menjadi Kalighat Home for the Dying, sebuah rumah sakit gratis untuk orang miskin. Mereka yang dibawa ke rumah tersebut menerima perhatian medis dan diberikan kesempatan untuk meninggal dalam kemuliaan, menurut ritual keyakinan mereka; Muslim membaca Al-Quran, Hindu menerima air dari sungai Gangga, dan Katolik menerima Ritus Terakhir. "Sebuah kematian yang indah," katanya, "adalah untuk orang-orang yang hidup seperti binatang, mati seperti malaikat - dicintai dan diinginkan."
Bunda Teresa segera menyediakan tempat tinggal untuk mereka yang menderita penyakit Hansen, umumnya dikenal sebagai kusta dan menyebut tempat ini sebagai Shanti Nagar (Kota Kedamaian). Para Misionaris Cinta Kasih juga mendirikan beberapa klinik kusta yang terjangkau di seluruh Kalkuta, menyediakan obat-obatan, perban dan makanan.
Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.
 Disini kita dapat belajar bahwa rasa cinta kasih dapat mengalahkan pemikiran tentang perbedaan agama. Bunda Theresa Mengajari kita untuk saling mengasihi, teutama lebih mengambil perhatian kepada kaum papa miskin. Mereka membutuhkan uluran tangan kita. Tak peduli atas latar belakang agama, suku, maupun ras yang dimiliki, namun yang terpenting bagaimana kita bisa mempertanggung jawabkan iman kita kepada Tuhan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang serta lebih peduli dengan mereka. Agama memang menjadi pedoman, namun Iman merupakan tindakan konkret kita untuk menunjukan bahwa kita mempercayai akan adanya Tuhan. karena melalui tangan kitalah, kasih dari Tuhan dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.

Senin, 02 November 2015

Tuhan Mencintai Kedamaian part 2

seperti yang disampaikan dari bagian 1, ada kutipan dari Yakobus 2:26 "Sebab sama seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati". Disini ditekankan bahwa dalam kehidupan beriman, yakni percaya akan adanya Tuhan diperlukan perbuatan-perbuatan yang menunjukan bahwa kita meyakini adanya Sang Pencipta. Wujud konkret dalam mewujudkan kedamaian yang dilandasi iman akan Tuhan yakni dengan berbuat saling mengasihi antar sesama manusia. Sama seperti perintah Allah yang dikutip dari Injil Matius 22:39 "....... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Seperti contoh disamping, bahwa kita jangan memikirkan ego sendiri. dengan cara memberikan tempat duduk kepada orang yang membutuhkan, seperti ibu-ibu hamil, ibu yang membawa anaknya, atau kepada siapapun. Mungkin tindakan seperti ini cukup sepele, namun di zaman sekarang, sangat kecil sekali kepedulian yang ditunjukan. Jangankan untuk mengasihi orang lain, mengasihi diri sendiripun sepertinya masih banyak yang kurang. dari memberi tempat duduk ini aku menjadi belajar bahwa hidup berarti kita harus memberikan diri kepada sesama, karena saya sadar saya tidak dapat hidup sendiri. Saya masih membutuhkan orang lain dan masih bergantung kepada orang lain.
 Gambar disamping juga menunjukan bahwa kita juga harus peduli tidak hanya kepada orang yang normal, namun juga kita harus peduli kepada orang yang istimewa. banyak diantara kita yang tak acuh bahkan cenderung membuang dan menjauhi orang-orang yang istimewa. Dari hal ini aku belajar untuk semakin peka dan semakin peduli akan sekitar. Karena kita hidup sebenarnya untuk melayani sesama, bukan untuk melayani diri sendiri. Kita diciptakan untuk saling berhubungan baik satu sama lain.
dan gambar diatas menunjukan bahwa dalam tolong menolong untuk sesama tidak mempedulikan ras, agama dan suku, disini teman saya yang beragama kristiani menolong ibu-ibu yang beragama muslim untuk turun dari bis. Agama bukanlah halangan untuk tidak saling melakukan tolong menolong, namun Agama merupakan pendorong untuk saling tolong menolong, peduli terhadap sesama dan saling mengasihi serta menyayangi satu sama lain.










Selasa, 20 Oktober 2015

Tuhan Mencintai Kedamaian

Apakah kedamaian itu? kedamaian berasal dari kata damai yang memiliki arti kata yang positif. bahkan tidak ada satupun orang yang menolak suatu kedamaian. Definisi kedamaian juga sangat luas.Kedamaian bisa berarti Perdamaian dapat menunjuk ke persetujuan mengakhiri sebuah perang, atau ketiadaan perang, atau ke sebuah periode di mana sebuah angkatan bersenjata tidak memerangi musuh. Damai dapat juga berarti sebuah keadaan tenang, seperti yang umum di tempat-tempat yang terpencil, mengijinkan untuk tidur atau meditasi. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari definisi-definisi di atas.  Namun ada satu hal yang sangat mengusik dari kedamaian tersebut yakni adanya perselisihan tentang paham agama. Seperti contoh dalam kasus pembakaran Gereja di Aceh; pengerusakan Masjid di Tolikara, Papua; Pemberantasan kaum Rohingya; bahkan yang menjadi topic pembahasan di seluruh penjuru dunia yang tak henti menebar terror yakni ISIS. Hampir semua alasan pengerusakan tempat ibadah mengatas namakan Agama. Mereka melakukan hal tersebut atas dasar membela kebenaran Agamanya. Adanya pemikiran sempit dan penafsiran yang keliru membuat mereka mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian untuk membela dengan mengatasnamakan Tuhan. Namun menurut PK, film dari India yang menceritakan tentang seseorang yang mencari kebenaran atas Tuhan menganggap bahwa Tuhan tidak perlu dibela dan dilindungi, justru manusialah yang harusnya dilindungi dan dibela. Tuhan Maha Esa, Maha Besar, Maha Kuasa, jika Tuhan bisa menciptakan seluruh alam semesta yang begitu besarnya, dan manusia berusaha untuk melindungi Tuhan, Justru Tuhan tidak membutuhkan perlindungan, karena Tuhan itu Maha Esa, tak terbatas kuasaNya, tak terbatas ruang dan waktu serta Tuhan itu Kekal. Sedangkan manusia yang sarat dengan keterbatasan, bahkan suatu saat bisa meninggal karena takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan. Namun pada dasarnya Tuhan adalah satu. Dan Agama merupakan jalan menuju kepada Tuhan, hanya saja cara beribadahnya yang berbeda, memiliki tatacara ibadah yang berbeda karena setiap agama memiliki cara yang khas dalam berekspresi untuk menunjukan komunikasi kepada Tuhan. Agama Katolik  melalui dokumen hasil dari Konsili Vatikan II yaitu Nostra Aetatea mengemukakan toleransi terhadap Agama Katolik dengan Agama yang bukan katolik. Salah satu kutipannya seperti berikut ini:
"Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang dalam agama-
agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-
cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang."
Bahkan dalam 1 Yohanes 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih diterangkan pula untuk saling mengasihi, karena Tuhan Allah sendiri adalah Maha Pengasih dan Pendamai bagi setiap umat manusia. Semua Agama mengajarkan bahwa Iman tanpa Perbuatan pada dasarnya adalah mati. Maka dari itu, menciptakan Kedamaian merupakan sebuah tindakan iman atas dasar perwujudan kepercayaan kita akan Tuhan, dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari adalah Perbuatan konkret yang dilaksanakan sebagai bukti bahwa kita mempercayai Tuhan sebagai Sang Pencipta. Sebagai umat beragama yang tentu mempercayai akan adanya Tuhan, sudah selayaknya kita membuat tindakan nyata menciptakan kedamaian dengan cara saling toleransi antar umat beragama. Saling menyayangi sesama manusia, karena pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sendiri.